X

Ini Dampak Pandemi Virus Corona Bagi Sektor Wisata DKI Jakarta

DKI Jakarta merupakan kota yang memiliki potensi wisata yang mumpuni. Beberapa wisata DKI Jakarta yang terkenal antara lain Ancol, Kawasan Monas, Kota Tua, TMII serta Kepulauan Seribu. Belum lagi terdapat arena bermain, planetarium, gedung kebudayaan, serta beberapa museum dengan keunikannya tersendiri. Tentu hal ini sangat menarik minat baik wisatawan domestik atau mancanegara untuk berkunjung ke kota megapolitan ini.

Dampak Corona Pada Sektor Wisata DKI Jakarta

Sejak akhir tahun 2019, dunia telah diguncang oleh sebuah pandemi virus asal Wuhan, yaitu Covid-19. Hal ini pun lambat laut menurunkan tingkat perekonomian dunia, terlebih sektor pariwisata. Jakarta sendiri menjadi salah satu daerah dengan kasus positif terbanyak di Indonesia.

Tentu hal ini membawa dampak tersendiri pada sektor pariwisata di kota dengan tingkat mobilitas yang tinggi ini, diantaranya:

  • Jumlah Wisatawan

Penyempitan ruang gerak masyarakat mengakibatkan menurun drastisnya tingkat wisatawan yang berkunjung ke berbagai daerah, tidak terkecuali ibu kota Indonesia ini juga terkena dampaknya. Menurut penuturan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia terjadi penurunan 70 – 80% wisatawan asal negeri tirai bambu selama pandemi. Hal ini karena adanya larangan keluar atau masuknya turis asal negara tersebut.

Selain itu berdasarkan data BPS DKI Jakarta, secara keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung pada Wisata DKI Jakarta juga terus menurun. Pada Februari 2020 kemarin jumlah wisatawan asing hanya mencapai 131.240 orang. Angka ini pun terus menurun hingga 87,44 persen pada bulan April 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

  • Sektor Perhotelan

DKI Jakarta sebagai salah satu tempat wisata memiliki banyak hotel untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Selama masa pandemi akibat virus corona, memiliki tingkat okupasi (keterisian) hotel mendekati nilai 0%. Hal ini tentu memusingkan para pengusaha. Akhirnya, beberapa hotel yang tak mampu bertahan pada merosotnya wisata DKI Jakarta memilih menutup sementara usahanya.

Namun, sebagian lain memutar otak dengan menyediakan jasa karantina dengan tambahan fasilitas rapid test. Beberapa hotel juga memberikan penawaran bersih-bersih rumah hingga work from hotel dengan potongan harga yang menggiurkan. Selain itu, beberapa hotel telah bekerja sama dengan pemerintah sebagai tempat tinggal sementara bagi tenaga medis yang bertugas di garda terdepan selama pandemi.

  • Pekerja Wisata Beralih Profesi

Tak sedikit pekerja tempat wisata yang melakukan penutupan sementara terkena dampak dari adanya virus Covid-19. Pemberhentian hak kerja hingga dirumahkan adalah salah salah satu jalan yang digunakan pemilik usaha untuk menutupi kerugian yang mereka tanggung. Selain itu, pekerja wisata dengan sistem freelance seperti tour guide, supir travel, serta penyedia jasa sewa kendaraan terkena dampak akibat merosotnya wisata DKI Jakarta.

Seperti penutupan sementara Kota Tua mengakibatkan para pemilik sepeda serta penjual cenderamata kehilangan penghasilannya. Belum lagi destinasi wisata pulau seribu yang memiliki jasa angkutan perahu penyeberangan. Tak sedikit dari yang mereka memilih untuk kembali ke kampung halaman. Namun, bagi sebagian yang terjebak untuk tetap tinggal di kota membanting setir menjadi ojek online demi terus hidup di tengah pandemi.

 

Pemerintah DKI Jakarta sendiri mulai melonggarkan ketentuan penghindaran keramaian dengan membuka kembali beberapa Wisata DKI Jakarta. Namun, hal tersebut tetap menggunakan beberapa protokol kesehatan, salah satunya adalah penurunan kapasitas pengunjung menjadi 50% dari kapasitas pada umumnya. Beberapa protokol kesehatan pun dilakukan guna mencegah penyebaran virus Covid-19. Kita tinggal menunggu apakah ketentuan ini dapat memulihkan sektor penyumbang devisa kedua bagi negara di tengah era baru.

Nilai post ini
Related Post